Cristiano Amon, CEO Qualcomm sudah lama berniat ingin menggarap asisten AI untuk sistem mobil.
Sebab, ia meyakini bahwa kini mobil pun telah menjadi sebuah platform komputasi.
Bila mobil sudah dilengkapi AI generatif, maka dapat memberikan pengalaman perjalanan dan mengemudi akan semakin meningkat.
Adanya sistem AI ini tentu juga akan menghasilkan kokpit mobil yang lebih canggih dan juga mudah dinavigasikan, bukan?
Pada Rabu kemarin, 23 Oktober 2024, Google dan Qualcomm secara resmi mengumumkan kolaborasinya dalam pengembangan asisten suara AI yang akan digunakan untuk produk otomotif, mobil.
Kolaborasi ini tentu saja diharapkan akan mengubah industri otomotif menjadi lebih canggih dan pastinya semakin terbantu dengan keterlibatan teknologi dan sistem Kecerdasan Buatan atau AI.
Kolaborasi Google Dan Qualcomm Menciptakan Fitur Asisten AI untuk Mobil
Asisten AI terbaru ini nantinya akan menggunakan AAOS atau Android Automotive OS, yang memang dirancang oleh Google untuk mobil.
Sementara, Qualcomm sendiri menawarkan Snapdragon Digital Chasis.
Gunanya adalah sebagai penyokong Google Cloud dan platform AAOS tersebut yang mana terpasang pada kokpit digital bertenaga AI.
Di samping itu, juga ada dua chip baru khusus sistem kemudi otomotif. Diantaranya, Snapdragon Ride Elite untuk fitur mengemudi otomatis, lalu Snapdragon Cockpit elite untuk sistem dasbor.
Tujuan Dibuatnya Fitur Asisten AI untuk Mobil
Fungsi dari diciptakannya sistem AI adalah untuk membantu pengemudi dan penumpang dalam berinteraksi dengan fitur mobil tersebut.
Nantinya, asisten AI juga akan menyediakan peta imersif yang akan memberikan informasi pada pengemudi secara real time.
Kedepannya, produsen mobil saja menggunakan sistem AI ini untuk menciptakan karakter asisten dasbor produknya sendiri.
Apalagi, aksesnya juga tak harus terkoneksi dengan ponsel pintar membuat pengoperasiannya makin mudah.
Sehingga, pengalaman yang didapatkan terkesan lebih personal bagi pengguna.
Tak dapat dipungkiri, kini teknologi perlahan mulai masuk ke kehidupan sehari-hari kita, karena memang dinilai lebih praktis, efektif, dan efisien.
Jadi, wajar saja bila semakin banyak perusahaan yang berbondong-bondong ingin mengintegrasikan sistem AI ke dalam perusahaan yang sedang dijalankan tersebut.



